Senin, 22 Mei 2017

Contoh RPP K.13 Edisi Revisi, Sejarah Indonesia XI 3.5


Contoh RPP K.13 Edisi Revisi, Sejarah XI 3.5.
3.5 dalam materi Sejarah Indonesia (Wajib) kelas XI terdapat 2x pertemuan. RPP yang disajikan ini adalah untuk pertemuan ke-2.


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)

Satuan Pendidikan   : SMAN 11 Yogyakarta
Mata Pelajaran         : Sejarah Wajib
Kelas / Semester        : XI / 1
Materi Pokok            : Kependuduan bangsa Jepang di Indonesia
Sub materi pokok      : Respon respon bangsa Indonesia terhadap bangsa Jepang
Alokasi Waktu          : 2 JP (1JP X45Menit)


A.    Kompetensi Inti
K.3
K.4
Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah
Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan

B.     Kompetensi Dasar dan Indikator

Kompetensi Dasar
Indikator

3.5   Menganalisis sifat pendudukan Jepang dan respon bangsa Indonesia









4.5  Menalar sifat pendudukan Jepang dan respon bangsa Indonesia dan menyajikannya dalam bentuk cerita sejarah



3.5.1.      Menganalisis peran rakyat Indonesia terhadap organisasi-organisasi pembentuakan jepang
3.5.2.      Menganalisis pemberontakan- pemberontakan terhadap kependudukan Jepang
3.5.3.      Menganalisis dampak (sosial, politik, ekonomi, birokrasi, militer, budaya) kependudukan Jepang di Indonesia


4.5  .1 Mempersentasikan sifat pendudukan Jepang dan respon bangsa Indonesia dan menyajikannya dalam bentuk Power Point


C.    Tujuan Pembelajaran :

Setelah mengikuti proses pembelajaran peserta didik dapat:
1.        Menjelaskan peran rakyat Indonesia dalam salah satu organisasi bentukan Jepang.
2.        Menganalisis  minimal 2 bentuk pemberontakan terhadap pendudukan Jepang.
3.        Menganalisis minimal 3 dampak pendudukan Jepang di Indonesia.
4.        Mempersentasikan sifat pendudukan Jepang dan respon bangsa Indonesia dan menyajikannya dalam bentuk Power Point.



D.    Materi Pembelajaran:
Kependuduan bangsa Jepang di Indonesia
·         Peran rakyat Indonesia dalam organisasi-organisasi bentukan  Jepang
·         pemberontakan rakyat Indonesia pada masa kependudukan Jepang
·         Dampak (Sosial, Politik, Ekonomi, Birokrasi, Militer, Budaya) kependudukan Jepang di Indonesia
NilaiKarakter yang diharapkan           : Kepemimpinan dan kerja sama


E.     Metode Pembelajaran:
·         Model Pembelajaran           : Debat
·         Metode pembelajaran         : Diskusi, Argumentasi, Tanggapan, tanya jawab, kuis, kelompok penugasan.


F.     Media dan Alat Pembelajaran

Media:
1.         Power Point
2.         Gambar
3.         Buku yang relevan
4.         Internet 

Alat:
5.        Laptop
6.        LCD projector
7.        Hp

G.    Sumber Belajar
1.         Badrika, I Wayan. 2005. Sejarah Nasional Indonesia dan Umum SMA Jilid 1. Jakarta: Erlangga
2.         Tim kreatif sejarah. Buku Sejarah SMA/MA Kelas XI. Jakarta; Bumi Aksara
3.         Gottschalk, Louis diterjemahkan Nugroho Notosusanto. 1986. Mengerti Sejarah. Jakarta: UI Press
4.         Onghokham. 1987. Runtuhnya Hindia Belanda. Jakarta; PT.Gramedia
5.         De Jong, Dr. 1985. Kependudukan Jepang di Indonesia. Jakarta; kasiant Blanc
6.         Hugiono,dkk.1987. Pengantar Ilmu Sejarah. Jakarta: Bina Aksara.




A.    Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemuan ke dua dalam KD 3.5
Kegiatan
Deskripsi
Abstraksi Waktu
Pendahuluan
·         Menyiapkan peserta didik secara psikis fisik untuk mengikuti proses pembelajaran.
·         Doa bersama bersyukur atas kesehatan dan kehidupan yang sempurna.
·         Untuk menarik perhatian peserta didik, guru bersama peserta didik melakukan bebarapa gerakan peregangan.
·         Guru melakukan refleksi untuk pembahasan sebelumnya, dan mengkaitkan topik tersebut dengan topik yang akan dibahas.
·         Sebelum menyampaikan topik pembelajaran
·         Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai
·         Menyampaikan lingkup dan tehnik penilaian yang akan digunakan
·         Guru menyampaikan metode dan model pembelajaran yaitu model pembelajaran Debat.
·         Guru telah membagi siswa kedalam dua kelompok besar yaitu kelompok Pro dan Kontra
·         Guru mengintruksikan kepada peserta didik untuk duduk kedalam kelompok besar dan sekaligus memberikan arahan untuk masing-masing individu harus mengemukakan pendapatnya.
·         Jalannya debat akan dilakukan oleh guru sebagai moderator sekaligus pengamat debat.


15 menit
Kegiatan Inti
Mengamati
*      Guru menayangkan beberapa slide gambar tentang hubungan internasional jepang dengan indonesia. 
*      Sebelum masuk kegiatan inti Guru akan memberikan gambaran umum tentang kependuduan jepang di Indonesia dalam sejarah.

Menanya
*      Peserta didik diberikan kesempatan untuk bertanya jika ada yang perlu ditanyakan  mengenai gambaran umum kependudukan Jepang di Indonesia.

Mengumpulkan informasi
Mengumpulkan dan identifikasi
*      Didalam kelompok guru memberikan waktu 10 menit untuk mengumpulkan dan mengidentifikasikan data yang berkaitan dengan pembahasan debat
Mengkomunikasikan
*      Pada tahap ini debat akan dilakukan
*      Guru memandu jalannya debat, sesi pertama dimulai dengan sesi argumentasi dari kelompok pro dan selanjutnya kontra. Masing-masing 3 menit
*      Sesi kedua adalah sesi saling menanggapi dari sesi argumentasi. Masing-masing 4 menit
*      Sesi ketiga adalah sesi debat atau adu argementasi masing-masing 5 menit. Jika ada sanggahan hanya diperbolehkan dalam waktu 20 detik (maksimal 3x sanggahan) ini dilakukan secara bergantian Pro ke Kontra, begitu sebaliknya.
*      Tahap akhir adalah sesi kesimpulan. Masing-masing 2 menit
Kesimpulan

*      Guru mengkoreksi jika ada jawaban atau tanggapan yang kurang tepat, dan memberikan penguatan jika jawabannya tepat.
*      Guru memberikan pemahaman jika tujuan pembelajaran belum tercapai.
*      Setelah selesai guru menanyakan apakah semua peseta didik sudah memahami pelajarah hari ini.
*      Guru bersama  peserta didik menyimpulkan materi yang telah dibahas.

Evaluasi
Guru memberikan evaluasi kepada peserta didik diberikan dalam bentuk kuis/tes tulis (soal terlampir)
65 menit
Penutup

Refleksi
·       Guru sekali lagi menegaskan agar para peserta didik tetap bersyukur kepada Tuhan Yang Esa yang telah menjadikan manusia sebagai makhluk yang sempurna.
·       Guru menanyakan kepada peserta didik bagaimana perasaan peserta didik setelah proses pembelajaran.
·       Guru dan peserta didik mencari nilai yang terkandung dalam proses belajar pada pembahasan ini.

Tugas lanjutan KD 4.10
Guru menugaskan Membuat kesimpulan dalam bentuk PPT mengenai kependuduan jepang di Indonesia
·       Menginformasikan materi pertemuan berikutnya : tentang akan di adakannya ulangan KD 3.5, (diharapkan untuk belajar dirumah)
·       Kegiatan diakhiri dengan doa bersama dan salam.
10 menit



B.     Penilaian Hasil Belajar
a.         Jenis dan Teknik Penilaian:
1)        Jenis nilai  aspek Sikap dengan Teknik Pengamatan/observasi.
2)        Jenis nilai  aspek pengetahuan dengan Teknik Tes tulis
3)        Jenis nilai  ketrampilan dengan teknik pengammatan
b.        Bentuk Instrumen
1)        Penilaian Sikap (terlampir)
a)   Bentuk      : Pengamatan sikap
b)   Instrumen : jurnal penilaian sikap
2)        Penilaian Pengetahuan  (terlampir)
a)   Bentuk      : Tes tulis
b)   Instrumen : Soal Essay
3)        Penilaian Keterampilan (terlampir)
a)   Bentuk      : Keterampilan dalam diskusi
b)   Instrumen : Jurnal penilaian keterampilan

Yogyakarata , 1 Mei 2017
                                                                                   
                                                                                                     Guru Mata Pelajaran


                                                                                                    Iren Novita Sari, S.Pd





PENILAIAN

Kisi-kisi Soal
Mata Pelajaran           : Sejarah  Indonesia
Kelas/ Semester          : X/1
Bentuk Soal               : Uraian


Tujuan penilaian
Kisi-kisi  soal evaluasi
No. Soal
1.        Menjelaskan peran rakyat Indonesia dalam salah satu organisasi bentukan Jepang.
2.        Menganalisis  minimal 2 bentuk pemberontakan terhadap pendudukan Jepang.
3.        Menganalisis minimal 3 dampak pendudukan Jepang di Indonesia.
4.        Mempersentasikan sifat pendudukan Jepang dan respon bangsa Indonesia dan menyajikannya dalam bentuk Power Point.

·         Peran rakyat Indonesia dalam salah satu organisasi bentukan Jepang.
·         Bentuk pemberontakan terhadap pendudukan Jepang.
·         Dampak pendudukan Jepang di Indonesia.


1

2

3











No Soal
Skor
1
30
2
30
3
40

Nilai akhir = Nilai Perolehan


Soal kognitif

1.      Jelaskanlah salah satu peran rakyat Indonesia dalam salah satu organisasi bentukan Jepang!
2.      Bagaimana bentuk pemberontakan terhadap pendudukan Jepang. Minimal 2 bentuk pemberontakan!
3.      Bagaimana dampak (Sosial, Politik, Ekonomi, Birokrasi, Militer, Budaya) pendudukan Jepang di Indonesia. Minimal 3 bentuk dampak!

Jawaban:

1.Pusat Tenaga Rakyat atau Putera adalah organisasi yang dibentuk pemerintah jepang di Indonesia dan dipimpin oleh Empat Serangkai, yaitu Ir.Soekarno, M. Hatta, K.H. Dewantara, dan K.H Mas Mansyur.. Tujuan didirikannya Putera oleh Jepang adalah untuk mempersatukan rakyat Jawa dalam menghadapi serangan Sekutu. Namun, oleh para pemimpin Indonesia, Putera justru digunakan untuk memelihara perjuangan bagi terwujudnya Indonesia merdeka. Para pemimpin Putera sering melakukan rapat-rapat raksasa untuk senantiasa melatih semangat rakyat Indonesia. (Putera adalah satu organisasi yang dimaksud;peserta didik boleh menjawab organisasi lainnya
2.      Perlawanan di Jawa Barat
Pada bulan April 1944 rakyat di desa Kaplongan, kabupaten Indramayu bangkit melawan Jepang sebagai akibat dari tindakan tentara Jepang yang melakukan perampasan padi dan bahan makanan lain secara paksa. Di Kabupaten yang sama tepatnya di desa Cidempet pada tanggal 30 Juli 1944 terjadi juga perlawan rakyat dengan penyebab yang sama juga, yaitu kelaliman alat-alat pemerintahan pendudukan Jepang.
Perlawanan di Aceh
Pada bulan November 1942 di daerah Cot Plieng, Lhoek Seumawe terjadi perlawanan rakyat menentang pasukan Jepang. Perlawanan ini dipimpin oleh Tengku Abdul Jalil. Pada saat melaksanakan ibadah sholat Tengku Abdul Jalil dan para pengikutnya dibunuh oleh pasukan Jepang. (ini adalah dua  dari banyaknya pemberontakan yang dimaksud;peserta didik boleh menjawab pemberontakan lainnya)
3.      a. Bidang sosial
·         Adanya praktik perbudakan wanita (yugun ianfu). Banyak wanita muda Indonesia yang digunakan sebagai wanita penghibur bagi perang Jepang.
·         Kegiatan romusha yang menyengsarakan dan memiskinkan rakyat.
·         Pembatasan pers sehingga tidak ada pers yang independent dan pengawasan berada di bawah pengawasan Jepang.
·         Terjadinya kondisi yang parah dan maraknya tindak kriminal seperti perampokan, pemerkosaan dan lain-lain.
b.      Bidang politik
Sejak awal pemerintahannya, Jepang melarang bangsa Indonesia berserikat dan berkumpul. Oleh karena itu, Jepang membubarkan organisasi-organisasi pergerakan nasional yang dibentuk pada mas Hindia Belanda, kecuali MIAN. MIAI kemudian dibubarkan dan digantikan dengan Masyumi. Para tokoh pergerakan nasional pada masa pendudukan Jepang mengambil sikap kooperatif. Dengan sikap ini, meraka banyak yang duduk dalam badan-badan yang dibentuk oleh pemerintah Jepang, seperti Gerakan 3 A, Putera, dan Cuo Sangi In. Selain itu, para tokoh pergerakan nasional juga memanfaatkan kesatuan-kesatuan pertahanan yang dibentuk oleh Jepang, seperti Jawa Hokokai, Heiho, Peta, dan sebagainya.
Kebijaksanaan pemerintah Jepang tersebut bertujuan  untuk menarik simpati dan mengerahkan rakyat Indonesia untuk membantu Jepang dalam perang melawan sekutu, namun kenyataannya dimanfaatkan oleh para tokoh pergerakan nasional, sehingga banyak memberikan keuntungan bagi perjuangan bangsa Indonesia. Dengan demikian, pemerintah jepang berhasil melakukan pengekangan terhadap berbagi kegiatan pergerakan nasional, namun tidak berhasil mengekang berkembangnya kesadaran nasional bangsa Indonesia menuju Indonesia merdeka.
c.              Bidang ekonomi
Jepang berusaha untuk mendapatkan dan menguasai sumber-sumber bahan mentah untuk industri perang. Jepang membagi rencananya dalam dua tahap.
1.      Tahap penguasaan, yakni menguasai seluruh kekayaan alam termasuk kekayaan milik pemerintah Hindia Belanda.
Tahap penyusunan kembali struktur ekonomi wilayah dalam rangka memenuhi kebutuhan perang. Sesuai denga tahap ini maka pola ekonomi perang dirancanakan bahwa setiap wilayah harus melaksanakan autarki. Autarki, artinya setiap wilayah harus mencukupi kebutuhan sendiri dan juga harus dapat menunjang kebutuhan perang. Romusa mempunyai persamaan dengan kerja rodi atau kerja paksa pada zaman Hindia Belanda, yakni kerja tanpa mendapatkan upah. (ini adalah tiga  dari banyaknya dampak yang dimaksud;peserta didik boleh menjawab dampak lainnya)




PENILAIAN KETERAMPILAN KELOMPOK
DEBAT
Mata Pelajaran
:
Sejarah Indonesia

Tahun Pelajaran
:
2017-2018
Kelas / Semester  
:
X      / I

Waktu Pengamatan 
:


NO
Nama Peserta Didik
Aspek yang dinilai
 Skor Rata2
Kemampuan berkontribusi
Relevansi argumen
Etika dalam berbicara
Bertanya/menjawab
Menyimpulkan
1







2







3







4







5







6







7







8







9







10







11







12







13

















Keterangan :
Rata-rata = Jumlah seluruh data
                     Banyak data

Skor:
·         0 – 74  = Kurang
·         75 – 80 = Cukup
·         81 – 90  = Baik
·         91 – 100  = Amat Baik.
                                                         


JURNAL PENILAIAN SIKAP SOSIAL
Satuan Pendidikan                  : SMAN 11 Yogyakarta
Kelas/ Semester                       : XI       / I(satu)
Tahun Pelajaran                       : 2017-2018

No.
Waktu
Nama
Butir Sikap yang dinilai
Kett
Kepemimpinan
Kerja sama












































































































































































Instrumen Penilaian Sikap Kepemimpinan


Kepemimpinan   adalah kemampuan untuk bertanggung jawab, disiplin serta kemampuan untuk memberikan gagasan-gagasan baru yang dapat diterapkan dalam memecahkan masalah, atau sebagaikemampuan untuk melihat hubungan-hubungan baru antara unsur-unsur yang sudah ada sebelumnya.
Nama siswa
Instrumen
Skor 1-4
kett

  • Datang tepat waktu



  • Tenang dan tidak ceroboh dalam proses pembelajaran



  • Patuh pada tata tertib atau aturan bersama/ sekolah



  • Mengerjakan/mengumpulkan tugas sesuai  dengan waktu yang ditentukan (bertanggung jawab)



  • Menerima resiko dari tindakan yang dilakukan




Keterangan:
Skor 1              : Kurang Baik
Skor 2              : Cukup Baik
Skor 3              : Baik
Skor 4              : Sangat Baik


Instrumen Penilaian gotong royong

Kerja sama adlaah bekerja bersama-sama dengan orang lain untuk mencapai tujuan bersama dengan saling berbagi tugas dan tolong menolong secara ikhlas
Nama siswa
Instrumen
Skor 1-4
kett

  • Aktif dalam kerja kelompok



  • Memusatkan perhatian pada tujuan kelompok



  • Tidak mendahulukan kepentingan pribadi



  • Dapat menerima perbedaan dengan baik (tidak emosinal)



  • Kesediaan melakukan tugas sesuai kesepakatan



Keterangan:
Skor 1              : Kurang Baik
Skor 2              : Cukup Baik
Skor 3              : Baik
Skor 4              : Sangat Baik






Selasa, 16 Mei 2017

Potret Pendidikan Bangsaku




Di era perkembangan pendidikan yang sudah maju ini kita mengetahui, betapa giatnya pemerintah untuk mengembangkan pendidikan indonesia mulai dari kurikulum, teknologi, gedung sekolah, kualitas guru yang terus di upayakan bagus, supaya pendidikan indonesia mampu bersaing dengan negara-negara luar lainnya.
Upaya Pembangunan pendidikan tersebut sebenarnya sudah dilaksanakan pada zaman penjajahan dan sampai pada saat sekarang ini, telah memberikan hasil yang cukup mengagumkan sehingga secara umum kualitas sumberdaya manusia Indonesia jauh lebih baik. Namun upaya untuk membangun sumber daya manusia yang berdaya saing tinggi, menguasi iptek, serta bermoral dan berbudaya bukanlah suatu pekerjaan yang relatif mudah. Hal ini di sebabkan dunia pendidikan indonesia masih menghadapi berbagai masalah internal yang cukup mendasar dan bersifat kompleks. Diantaranya belum meratanya guru, sarana dan prasarana ditambah lagi kondisi geografis indonesia yang tidak sama, sehingga pendidikan indonesia masih banyak yang harus dibenahi.
Masalah pembenahan dalam pendidikan, sebenarnya bukanlah berbicara masalah mutu. Mutu pendidikan akan timbul apabila hasil pendidikan belum mencapai taraf yang diharapkan. Padahal hasil belajar yang bermutu hanya mungkin dicapai melalui proses belajar yang bermutu. Hal ini tidak akan menjadi persoalan ketika kita berkaca untuk pendidikan di kota, bahkan kemajuannya sudah sampai ketahap yang tinggi, misalnya dengan fasilitas yang lengkap, guru yang profesional, serba cepat dan canggih mampu membuat pendidikan itu sangat bergengsi. Akan tetapi kenyataan sekarang ini, pendidikan yang selayaknya tersebut belum merata sampai pelosok tanah air indonesia ini. Misalnya Kabupeten Belu, Provinsi NTT, yang termasuk salah satu daerah 3T di Indonesia ini. Pendidikan di tempat tersebut banyak yang menjadi sorotan utamanya, diantaranya kurangnya guru, sarana dan prasarana yang sangat sederhana, serta faktor alam yang membuat ragamnya persoalan tersebut.
Kekurangan guru
Kita mengetahui bagaimana pengaruh guru dalam pendidikan, guru adalah senjata utama untuk menjadikan pendidikan yang berkualitas. Ditangan gurulah akan menciptakan penerus bangsa yang akan menjadi pemimpin negeri ini, ditangan gurulah akan lahir generasi muda yang berkualitas yang memiliki akhlak, dan karakter yang dibutuhkan dalam era globalisasi ini.
Oleh karena itu guru sangat diperlukan untuk membentuk itu semua, yang menjadi persoalan disini ialah ketika meludaknya guru dikota dan minimnya guru dipelosok tanah air. Sebuah persoalan yang tidak terasa adil untuk mereka yang berada di pelosok, jika kita melihat secara empiris penulis banyak ditemui di sekolah-sekolah daerah 3T sangat membutuhkan guru. Diwilayah tersebut guru adalah sumber ilmu yang pertama dan utama, oleh karena itu tidak jarang kita temui guru mengajar secara rangkap (satu guru dalam dua kelas), pada dasarnya guru harus mampu menguasai semua bidang studi dalam tingkatan yang  berbeda. Begitulah perjuangan guru di wilayah 3T tersebut.
 Dengan keterbatasan sumber daya manusia, tidak menghentikan proses pendidikan di pelosok, keterbatasan tidak menjadi penghalang untuk tetap mendidik anak-anak untuk menjadi insan yang memiliki budi pekerti yang baik. Selain guru yang terbatas, hal lain yang menjadi persoalan pendidikan di pelosok negri adalah masalah sarana dan prasarana.
Sarana dan prasarana
Dalam UUD 1945 bab XI pasal 17 berbunyi: “Tiap-tiap warga Negara republik Indonesia mempunyai hak yang sama diterima menjadi murid suatu sekolah jika syarat-syarat yang ditetapkan untuk pendidikan dan pengajaarn pada sekolah itu dipenuhi.”. Menjadi persoalan disini ketika terjadi kesenjangan antara pendidikan di kota dan daerah yang berada di 3T. Seolah-olah UU tidak berlaku untuk pendidikan yang ada di pelosok negri, mengapa demikian? Ketika kita melihat pendidikan di daerah 3T kita merasa adanya ketidak adilan untuk mereka, gedung sekolah yang tidak layak, tidak cukupnya ruang belajar, tidak tersedianya media dalam belajar, akses internet yang jauh dari harapan, serta buku-buku yang sangat terbatas, ditambah lagi seragam sekolah yang sudah berubah warna dari putih menjadi kuning. Ini menjadi khas pendidikan yang ada di pelosok tanah air. Selanjutnya yang tidak kalah pentingnya adalah faktor alam.

Faktor alam
Hal yang paling menjadi sorotan pendidikan di daerah timur ini adalah faktor alam dan kondisi goegrafisnya. Adanya dua musim, kemarau dan hujan yang masing-masing terjadi selama enam bulan. Ketika musim kemarau datang, akan terjadi kekeringan dan sulitnya mendapatkan air. Hal itu akan berdampak kepada anak-anak dan pendidikan tentunya. Anak-anak diharuskan mencari air dikali yang jaraknya jauh dari sekolah, mengingat air adalah sumber kehidupan yang tidak dapat dilepaskan untuk keperluan sehari-hari disekolah misalnya untuk cuci tangan, pengisian air di toilet, dan untuk menyiram bunga. 
Sebaliknya, ketika musim hujan datang permasalahan lain akan muncul. Dimana kali (sungai) tempat mencari air tersebut menjadi banjir sehingga akan menyulitkan akan untuk menyebrang ke sekolah, yang pada akhirnya banyak anak-anak yang tidak bersekolah. Hal lain yang menjadi persolan ketika hujan  yang berkepanjangan adalah banyaknya siswa dan guru yang sakit sehingga proses belajar mengajar tidak berjalan dengan baik.
Selain karna pengaruh musim, faktor geografis juga meramaikan cerita pendidikan di pelosok negri ini, mereka tinggal di lereng-lereng gunung dan sekolah berada di atas bukit. Mereka butuh waktu 30-120 menit  perjalanan untuk sampai ke sekolah. ketika sudah berada disekolah, mereka sudah berkeringat dan terlihat kelelahan. Ini merupakan salah satu potret miris tentang pendidikan kita, salah satu secita diantara ratusan cerita di seluruh tanah air ini.
Dengan banyaknya ragam persoalan pendidikan di darah 3T tersebut, tidak membuat mereka tengggelam dalam ketidakberdayaan, mereka sangat semangat menimba ilmu pengetahuan, mereka juga mampu berprestasi, bahkan mereka juga mampu besaing dengan anak-anak yang ada dikota yang serba tercukupi. Ini berarti dengan berbagai persoalan itu tidak membuat mereka patah semangat dan pantang menyerah untuk kemajuan bangsa indonesia. Si Eman, nama lengkapnya Emanuel Suri adalah salah satu anak dari pelosok negri yang mampu menjadi terbaik dan mewakili Provinsi NTT dalam ajang lomba pidato bahasa Indonesia dalam kancah nasional. Ini membuktikan kalau mereka punya semangat walaupun dengan serba sederhanan. Semangat yang mempu mendongkarak asumsi masyarakat kalau mereka memliki semangat belajar yang tinggi.
Walaupun demikian tentu hal ini menjadi renungan untuk kita, masyarakat, dan pemerintah tentunya mencari solusi atas semua permasalahan pendidikan di walayah 3T tersebut. Kita memang mempunyai wilayah luas, masyarakat yang tidak sedikit (penduduk terbanyak No 4 di dunia), wilayah geografis yang beragam, namun hal itu sebenarnya tidak menjadi kendala, jika kita semua peduli akan pendidikan anak yang ada di pelosok tanah nusantara ini, kita bersatu mencari dan ambil bagian maka pendidikan kita akan terselamatkan. Pemerintah sudah gencar mempersiapkan dan membuat program untuk pendidikan di perbatasan, misalnya program Indonesia Mengajar, GuDaCil (Guru Daerah Terpencil) SM3T dan sebagainya. Ini menandakan pemerintah sadar dan tahu akan semua permasalahan pendidikan di Nusantara ini. Selain pemerintah para guru seharusnya juga ikut berpartisivasi untuk mendukung program yang ditawarkan untuk pendidikan kita. Karena kalau tidak kita, siapa lagi yang akan peduli. Pendidikan yang maju ada ditangan kita kaum pendidik, ditangan kita akan menciptakan mutiara itu, mutiara yang akan bersinar untuk indonesia jaya.
Jika kita bisa menjadi orang yang bermanfaat dari sejak kita muda, maka sangat besar peluang kita untuk menjadi pencetak pemimpin yang bermanfaat dimasa depan, karena sebaik baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain. Mari kita mempersiapkan diri untuk melahirkan pemimpin dan mutiara masa depan.
Jika mutiara-mutiara dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Timur, dan Irian Jaya bersatu padu untuk membangun indonesia, maka tidak akan ada lagi yang mampu menggoyangkan nusantara ini. Senada dengan itu, bapak proklamor kita pernah berkata "Seribu orang tua hanya dapat bermimpi, satu orang pemuda dapat mengubah dunia.


Di pidato lainya bung Karno pernah juga berkata 
Beri aku seribu orang, dan dengan mereka aku akan menggerakkan Gunung Semeru. Beri aku sepuluh pemuda yang membara cintanya kepada Tanah Air, dan
dengan mereka aku akan mengguncang dunia.”

Harapan dan cita-cita kita semua untuk membangun indonesia ini melalui pendidikan..
Ing ngarso sung tulodo
Ing madya mangun karsa
Tut wuri handayani
Didepan memberikan teladan, ditengah membangkitkan semangat, dibelakang memberi dorongan. (Bapak pendidikan, Ki Hajar Dewantara)